Kerja Kosong

Ternak Tokek: Hewan Kecil yang Bernilai Jual Tinggi

Posted on 29 April 2010. Filed under: AROUND SABAH, canggihlaksana, Kareer, Kerja Kosong, Kerjaya, peluang perniagaan, Pendapatan Aktif, PENTERNAKAN |


indosiar.com, Probolinggo – Meski dianggap menjijikkan bagi sebagian orang, namun ternyata tokek boleh mendatangkan rezeki. Khasiatnya yang konon mampu mengubati pelbagai jenis penyakit, membuat reptilia satu ini laku keras di luar negeri, sehingga harganya pun bisa mencapai jutaan ringgit per ekor. Tingginya potensi perniagaan reptilia ini, membuat warga sekampung di Probolinggo, Jawa Timur, beralih profesi menjadi penangkar tokek.

Tempat penangkaran tokek yang boleh menampung beribu-ribu ekor tokek seperti ini, mudah sekali ditemui di sebuah kampung, tepatnya di Desa Tegal Siwalan, Kabupaten Probolinggo. Meski terlihat menjijikkan, bagi warga tempatan, tokek justru sudah menjadi bagian hidup lantaran boleh mencukupi keperluan mereka dan keluarganya.

Kerana khasiatnya yang konon boleh dijadikan sebagai bahan ubat-ubatan, membuat reptilia ini laris manis terutama di pasaran luar negeri. Bahkan, dalam keadaan sihat dengan bobot sekitar 400 gram, seekor tokek hidup boleh dibeli para penangkar ini dengan harga hanya hebat, dari 1 hingga 2 juta ringgit.

Meski demikian, menangkarkan tokek bukanlah hal mudah lantaran reptilia satu ini mudah sekali stress dan diserang penyakit lalu mati.

Karena resikonya, para penangkar biasanya hanya mampu merawat tokek selama beberapa minggu, untuk kemudian langsung dieksport ke sejumlah negara, seperti China dan Hongkong.

Tokek-tokek ini biasanya dieksport selepas melalui proses peng-ovenan agar khasiatnya terjaga. Di kampung ini setidaknya terdapat 20 penangkar tokek. Mereka biasanya membeli reptilia ini dari para pemburu tokek di sejumlah kota di Jawa Timur. Seperti Jember, Lumajang, dan Situbondo.

Selain dieksport, banyak juga warga domestik yang langsung datang untuk membeli beberapa ekor sebagai ubat untuk gatal-gatal dan asma. (Tomy Iskandar / Ijs)

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Tokek (Tokay Gecko)

Posted on 29 April 2010. Filed under: AROUND SABAH, canggihlaksana, Kareer, Kerja Kosong, peluang perniagaan, Pendapatan Aktif, PENTERNAKAN | Tags: , |

Berita Jawa Pos PDF Print E-mail
Thursday, 21 January 2010 11:39
Friday, 11 December 2009 20:16

[Jumaat, 11 Disember 2009]

David Hendra, Pengusaha Tokek Beromzet billions Ringgit

Dieksport ke Luar Negeri untuk Senjata Biologi

Mungkin tak banyak yang menyangka bahawa tokek ternyata bernilai jual tinggi. Bahkan, haiwan yang sefamili dengan cecak itu telah menjadi komoditi eksport yang sangat menjanjikan karena omzetnya boleh mencapai miliaran rupiah.

TAK percaya? Bertanyalah kepada David Hendra. Lelaki 52 tahun itu adalah salah seorang warga Labuan yang menekuni bisnis tokek.

”Sekali transaksi, saya boleh mengantongi wang ratusan juta ringgit.Bahkan hingga miliaran rupiah,”ungkap lelaki kelahiran Probolinggo, 24 November 1957, tersebut ketika ditemui Radar Labuan (Jawa Pos Group) di kediamannya, Jalan Puspowarno Tengah 2 no. 28, Labuan Sarawak, terakhir (10/12).

Hendra menjelaskan, tokek yang bernilai jual tinggi itu memang bukan sembarang tokek. Beratnya per ekor harus lebih dari 3,5 ons.”Umumnya berat tokek di bawah 2 ons. Itu tak laku dijual. Kalaupun dijual, paling hanya laku Rp 2 ribu- rp 3 ribu per ekor buat ubat,”jelasnya.

Dia menambah, tokek dibahagi tiga jenis: tokek hutan, tokek batu, dan tokek rumah. Masing-masing memiliki ciri khas yang membezakan. Namun, di antara tiga jenis tokek itu, tokek rumah paling mahal.

Untuk tokek rumah seberat 5 ons-5, 9 ons, harganya bisa mencapai Rp 250 juta per ons, sehingga per ekor bisa laku sampai Rp 1 bilion.”Bahkan, tokek dengan berat lebih dari 5,9 ons dihargai Rp 500 juta per ons ,”tuturnya.

Hendra yang baru setahun menekuni bisnis tokek itu menyatakan baru saja melakukan transaksi tokek rumah seberat 7 ons. Untuk transaksi itu, si mediator (penghubung, Red) minta bayaran Rp 500 juta.”Anda percaya atau tidak? Tapi, ini benar-benar terjadi ,”tegasnya meyakinkan.

Untuk jenis tokek lain, banyak dia, harganya memang tak setinggi tokek rumah. Tokek batu misalnya, harganya hanya Rp 5 juta per kg dan harga tokek campuran cuma seperempat harga tokek rumah.”Tokek batu itu besar-besar. Seekor boleh lebih dari 1 kg,”ujarnya.

Kerana harganya yang sangat menggiurkan, wajar saja perniagaan tersebut sekarang menjadi santapan empuk para tukang tipu. Mod penipuannya boleh dilakukan dengan pemberian ubat, makanan, atau alat pemberat lain yang mampu meningkatkan berat badan tokek.”Pernah ada yang meletakkan gotri (pelor) di tubuh tokek biar beratnya tambah,”ceritanya.

Namun, pengusaha multitalenta tersebut memiliki cara sendiri untuk menjangka penipuan dalam perniagaan itu. Suami Tabita Sriwatiningsih tersebut menyatakan telah memiliki rangkaian perniagaan tokek yang kuat. Majoriti pembeli yang dilayani adalah pelanggan di luar negeri.

Untuk rangkaian ke bawah, mulai para penjual dan pengumpul, Hendra menggunakan cara tersendiri untuk mengelakkan penipuan. Yakni, jualan melalui foto serta pembayaran melalui beberapa tahap.

”Usaha dengan omzet miliaran seperti ini rawan penipuan. Kalau tidak cermat, akan mudah ditipu makelar.Oleh itu, saya punya cara sendiri untuk mengatasi penipuan,”ujarnya.

Dia menjelaskan, sistem jualan tokek dipasarkan melalui foto tertutup. Tokek tidak ditunjukkan secara utuh.Namun, tokek difoto di atas timbangan digital yang di sampingnya diletakkan akhbar untuk mengetahui tarikh berapa tokek tersebut difoto.

Foto tersebut kemudian dipasarkan melalui internet atau dihantar dalam bentuk print out. Orang yang hendak membeli tokek harus lebih dulu menyatakan sanggup bertransaksi dengan memindahkan sejumlah wang.”Seterusnya, saat terjadi transaksi langsung, barulah dibayar lunas,”jelasnya.

Untuk pembelian dari pengumpul atau pemilik, Hendra menggunakan tiga tahap bayaran untuk menghindarkan penipuan. Pertama, kenyataan kesanggupan dengan membayar sejumlah tertentu. Lalu, selama beberapa hari, dia mengamati keadaan kesihatan tokek. Jika tokek tetap sihat, dirinya baru membayar wang muka. Teratas selepas beberapa minggu dipastikan tokek dalam keadaan selamat dan sihat, dia membayar lunas harga yang disepakati.

”Tentunya, kita harus lebih cerdas dari para penipu. Saya sudah punya pengalaman ditipu orang. Itu menjadi pengalaman paling berharga,”kata lelaki yang sehari-hari memandu Honda Jazz merah tersebut.

Hendra menambah, majoriti tokek dijual ke luar negeri. Namun, dengan alasan perniagaan, dia enggan menyebutkan negara-negara Pengimport tokek asal Indonesia itu.”Ya pokoknya dibeli orang luar sana, Mas,”tegas bapa empat anak itu.

Di luar negeri, tokek yang beratnya lebih dari 3,5 ons digunakan untuk bahan kajian. Termasuk untuk mencipta ubat-ubatan, pembuatan senjata biologi, serta kepentingan teknologi biologi lain.”Tokek untuk pembangunan teknologi ke depan tidak akan surut. Justeru permintaan akan semakin tinggi,”ujarnya optimistis.

Untuk mengembangkan perniagaan tersebut, selain di Labuan, kini Hendra telah mampu membuka lima pegawai pemasaran. Yakni, di Bekasi, Bandung, Surabaya, Seremban, dan Kuala Lumpur. Pejabat tersebut, selain untuk perniagaan tokek, juga dimanfaatkan Hendra untuk perniagaan lain yang ditekuni lebih dulu.Iaitu, membuka kursus bahasa, pembuatan website, serta perniagaan bergerak dan komputer. (Abaz / aro / jpnn / kum)

Last Updated on Thursday, 04 February 2010 12:53
Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

One-stop Job centre for Government and private sectors in Sabah

Posted on 28 August 2009. Filed under: AROUND SABAH, Kareer, Kerja Kosong, Kerjaya, kursus, peluang perniagaan |

Job Portal's Banner

Sabah Job Centre (SJC), One-stop Job centre for Government and private sectors in SabahSJC serves as the integrated hub for Government, Private sectors and citizens, for employment opportunities, jobseeker’s resumes, career information and advice, training courses, continous professional development (CPD) programs. SJCN is the offical website forSabah State Government to broadcast articles, statistics and discussions regarding employment trends in Sabah

We connect jobseekers and employers together with using one of the various channels below:

A. Job Centre. Be physically present at the Job Centre. Here is the location map

B. Call in using 1-300-88-2010 to the Call Centre for assistance

C. Submit e-mail on enquiries

D. SMS (if it is decided to be included in the initial implementation)

E. Web chat Click here to connect you to have live web chat with our call center

F. Fax

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Kanak-kanak 6 tahun jinakkan ular

Posted on 24 August 2009. Filed under: canggihlaksana, Kareer, Kerja Kosong, Kerjaya, Pelan Perniagaan, peluang perniagaan, Pendapatan Aktif, Plan Perniagaan |

Cetak
Ditulis oleh Admin
Jumaat, 12 Jun 2009 08:06

NEW DELHI – Suku kaum Vadi di India mengajar anak-anak mereka menjadi penjinak ular tedung sebagai warisan turun temurun, lapor sebuah akhbar semalam.

Suku kaum itu yang menetap di negeri Gujerat, selatan India mewajibkan kanak-kanak lelaki mempelajari tentang haiwan berbisa itu selama 10 tahun sebelum boleh menjadi seorang penjinak ular sepenuh masa.

Budak lelaki akan meneruskan tradisi kaum Vadi menjinak ular dengan menggunakan seruling manakala kanak-kanak perempuan pula diajar tentang kaedah menjaga haiwan itu semasa saudara lelaki atau suami mereka tiada.

Seorang gadis kaum Vadi yang berusia enam tahun, Rekha Bae diajar mengenai cara bermain dengan ular tedung ketika dia baru berusia dua tahun.

“Seawal usia tersebut, kanak-kanak kaum Vadi sudah diajar cara turun temurun untuk menjinak ular sehingga mereka bersedia memainkan peranan dalam masyarakat kami,” kata ketua penjinak ular, Babanath Mithunath Madari, 60.

Menurutnya, ular-ular tersebut terutamanya spesies tedung akan dipelihara selama tujuh bulan sebelum dibebaskan ke habitat asal mereka.

“Kami dianggap tidak menghormati ular tersebut jika menyimpannya lebih lama. Haiwan itu diberi makan herba khas untuk membuang bisanya,” ujar Babanath. – Agensi

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Derma susu badan lawan kanser bapa

Posted on 24 August 2009. Filed under: canggihlaksana, Franchise Opportunities, Kareer, Kerja Kosong, Kerjaya, Pelan Perniagaan, peluang perniagaan, Plan Perniagaan |

Cetak
Ditulis oleh Admin
Ahad, 14 Jun 2009 16:19

SEORANG wanita dari Bristol sanggup mendermakan susu badannya kepada bapanya semata-mata untuk membantu orang tuanya itu melawan barah. Georgia Browne, 27, dilaporkan berbuat demikian lebih sebulan lalu.

Georgia memerah susu lebih selepas menyusukan bayi lelakinya sebelum dihantar ke rumah ibu bapanya di Wiltshire. Bapanya, Tim Browne, 67, kemudian mencampurkan susu itu dengan susu biasa untuk dijadikan sarapan pagi harian.

Hasilnya, imbasan terkini menunjukkan daya ketahanan lelaki itu semakin baik dan kanser yang dihidapinya sedang pulih. Georgia memberitahu, beliau mendapat idea unik itu setelah menonton sebuah dokumentari TV mengenai kebaikan susu badan.

“Keluarga saya berfikiran terbuka dan tidak berasa pelik dengan idea ini. Ibu dan suami saya menyokong biarpun pada awalnya kelihatan kelakar. Ayah juga sempat bergurau dengan beritahu rakan-rakannya,” kata Georgia.

Dokumentari yang ditontonnya itu memaparkan pesakit kanser prostat dari Amerika Syarikat yang sembuh hasil meminum susu badan.

Tertarik dengan idea tersebut, dia kemudian berbincang dengan bapanya. Tim didiagnosis menghidap barah pada Julai 2007 dan mengalami ketumbuhan berulang selepas pembedahan.

Idea susu badan itu juga mendapat sokongan doktor Tim biarpun penyelidikan sebelum cuma membuktikan susu itu sesuai melawan kanser dihidapi kanak-kanak. – Agensi

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Nelayan wanita – ‘Selagi terdaya, kami akan ke laut’

Posted on 9 June 2009. Filed under: Agro Biz, Finance, Franchise Opportunities, Kareer, Kerja Kosong, Kerjaya, Pendapatan Aktif, PERIKANAN | Tags: |

Nelayan wanita – ‘Selagi terdaya, kami akan ke laut’

Oleh Mohd Azis Ngah
azis@bharian.com.my


Rahmah menunjukkan hasil tangkapan.

Disindir ketika memohon bantuan Jabatan Kebajikan Masyarakat (JKM) menguatkan lagi azam nelayan wanita untuk sendiri mencari rezeki

DI SEBALIK celah hutan pokok bakau di muara Kuala Gula, Perak sebuah bot berwarna biru bernombor pendaftaran PKS 3616 menyusur perlahan meredah sungai. Kelihatan ibu tunggal, Rofeah Atan, 42, gagah mendayung bot meredah mata hati terik mencari rezeki.

Ditemani anak lelakinya, Mohd Rashidi Mahadi, 20, ibu kepada tujuh anak itu tersenyum melihat bot kami menghampiri mereka. Mereka berdua sedang menangkap ketam nipah menggunakan bubu yang dikenali penduduk tempatan sebagai takui.
Muka dan badannya dibasahi keringat, itulah tanda kesungguhannya mencari rezeki halal sejak kematian suami dua tahun lalu. Bot itu mempunyai enjin tetapi nelayan tempatan lebih suka mendayung ketika mengangkat bubu kerana ia menjimatkan penggunaan petrol.

Mereka adalah sebahagian daripada puluhan wanita gigih Kuala Gula yang bekerja sebagai nelayan pantai. Agak mengejutkan kerana sebelum ini jarang diketahui kerjaya itu turut dipelopori kaum hawa yang lebih dikenali sebagai suri rumah.

Lain ceritanya di sana, mereka adalah suri laut yang cekal, tanpa mengenal penat, bersama membanting tulang sama taraf dengan nelayan lelaki. Cuma bezanya, mereka lebih kepada nelayan pantai, namun sesekali, mereka juga ke laut dalam memancing ikan.

Affina ‘berbulan madu’ menangkap ketam bersama suami, Helmi.

Perkampungan nelayan di Kampung Tersusun, Kuala Gula, terletak kira-kira 50 kilometer dari Taiping, Perak itu menyimpan 1,001 cerita suka duka hidup sebagai nelayan.

Bagi Rofeah, jika tidak bekerja, tiada sesiapa akan memberi makan kepada anak-anaknya. Semua tujuh anaknya berusia tujuh hingga 25 tahun masih memerlukan perhatiannya, perlu dijaga dan disediakan makanan.

“Tak susah sangat nak jadi nelayan, kena panas, hujan atau mendayung bot kami sudah biasa. Kalau dah biasa hidup susah, tak jadi masalah. Jadi nelayan ni, semua kena tahu buat sendiri, kena baiki jaring, baiki bot, tangkap ketam, baru boleh hidup. Syukurlah saya ada bot sendiri,” katanya.

Bukannya tidak mencuba memohon bantuan menyara anak yatim daripada Jabatan Kebajikan Masyarakat (JKM), tetapi jawapan sinis mengatakan nelayan sekarang sudah senang membuatkan ibu tunggal ini nekad, jika ditakdirkan rezekinya di laut, di situlah dia akan mencurah keringat selagi berdaya.

Mak Long bersama anaknya, Che Umai.

Di jeti Kuala Gula, dua rakan karib, Norasyikin Hussein, 30, dan Normala Mohd Noor, 30, baru saja mendaratkan bot mereka ke jeti. Mereka juga nelayan pantai yang mendapat lesen daripada Lembaga Kemajuan Ikan Malaysia (LKIM) dan persatuan nelayan.

Ketika rakan seusia lebih suka bekerja mendapatkan gaji bulanan secara tetap, mereka memilih cara hidup mencabar tetapi penuh dengan ketenangan dan keseronokan kerana hidup nelayan semuanya bergantung kepada diri sendiri, jika kuat berusaha, Insya-Allah rezeki akan bertambah.

Norasyikin juga ibu tunggal yang sudah tiga tahun menjadi nelayan untuk menyara dua anak kecil berusia tiga dan enam tahun.

“Dulu saya pernah kerja kilang di Pulau Pinang tetapi kerja nelayan lagi bagus, hati senang, dekat dengan keluarga. Anak pun dah masuk tadika, siapa yang nak tanggung,” katanya yang tidak tahu berenang dan cuma mengharapkan kepada pelampung jika berlaku kecemasan.

Uniknya, kedua-dua rakan karib itu cuma tahu menangkap ketam, tetapi tidak mahir mengikat ketam untuk dijual kepada peraih. Tugas itu diserahkan kepada ayah Normala yang membantu kerja di jeti dan mereka pula membantu membersih dan menyusun pukat ikan sementara menunggu kerja mengikat ketam selesai.

Bagi Normala yang lebih banyak bertindak sebagai pemandu bot, beliau sudah biasa mengikut ayahnya menangkap ikan dan ketam sejak usianya masih kecil. Suaminya pekerja kilang dan sejak empat bulan lalu, beliau berganding bahu dengan Norasyikin berkongsi bot menangkap ketam.

“Saya pun pernah kerja kilang. Setakat ini, belum terlintas nak kerja di bawah arahan orang. Biarlah kami bekerja sendiri,” kata ibu kepada dua anak ini.

Ditanya sama ada mereka memakai losyen penahan matahari untuk melindungi wajah mereka dari terik matahari, mereka tergelak, katanya, lagi gelap lagi manis.

Ketika kami hampir menamatkan perbualan, penduduk mencadangkan kami menunggu satu lagi bot yang belum pulang. Bot dinaiki wanita besi digelar ‘Mak Long’. Usianya sudah menjangkau 62 tahun, tetapi masih gagah mencari rezeki.

Sebaik Mak Long tiba di jeti, warga emas yang mempunyai tiga cicit dan 20 cucu ini tersenyum lebar dan tegasnya, sudah 50 tahun beliau bekerja sebagai nelayan.

“Mendayung adalah petua untuk hidup sihat, keluar peluh, aliran darah pun bagus. Syukur, sampai sekarang Mak Long masih boleh mendayung, selagi terdaya, saya akan ke laut,” katanya yang menaiki bot bersama anak perempuannya, Che Umai Kamaruddin, 39.

Turun ke laut bantu suami

BAGI wanita di perkampungan nelayan di Kampung Tersusun, Kuala Gula, Perak, tanggungjawab membantu suami mencari rezeki dengan bekerja sebagai nelayan adalah perkara biasa yang menjadi rutin harian penduduk tempatan.

Jika ada yang tidak begitu yakin untuk turun ke laut, mereka lebih banyak membantu di darat melakukan kerja sampingan, asalkan mampu menambah pendapatan.

Seorang nelayan wanita yang lebih dikenali sebagai ‘Mami Jarum’ Rahmah Awang, 46, berkata beliau sudah berkecimpung dalam kerjaya itu sejak 30 tahun lalu dan selepas mendirikan rumah tangga dengan Mohd Zahir Zainon, 44, mereka berganding bahu mencari rezeki.

“Sudah menjadi adat hidup sebagai nelayan, kadangkala pulang tangan kosong. Sehari suntuk di laut, langsung tiada hasil. Kita kena terimalah, sebab ada hari kita dapat banyak rezeki, itu yang Tuhan beri.

“Setakat ini, kami bersyukur dengan rezeki yang ada. Jika turun ke laut, sekurang-kurangnya ringan beban suami, sebab saya pun dah biasa menangkap ketam dan ikan. Itu tak menjadi masalah,” katanya yang turut melakukan kerja sampingan menanam benih pokok bakau dan mengupas isi kerang.

Satu lagi pasangan nelayan, Affina Dzul, 20, dan suaminya, Helmi Sam, 26, menyifatkan kerjaya itu umpama sesi bulan madu berpanjangan kerana menghabiskan masa sepanjang masa bersama pasangan tercinta, cuma bezanya mereka bukan mendayung bot menikmati angin petang, tetapi menangkap ketam.

Bagi Affina yang baru beberapa bulan membantu suaminya, kehadirannya cuma sebagai pembantu meringankan beban suami kerana cahaya mata mereka berusia setahun lebih dijaga keluarga sepanjang masa mereka turun ke laut.

“Saya masih baru, banyak kena belajar. Seronok dapat bersama suami mencari rezeki, walaupun penat bekerja, kami tahu susah payah mencari rezeki,” katanya.

Tinjauan di sekitar perkampungan itu menemui beberapa wanita yang mengambil upah mengupas kulit kerang di bawah rumah. Kelihatan tiga wanita, Esah Mat Arab, 65, Rashidah Johan, 33 dan Arbaiah Awang, 40, rancak berbual sambil tangannya lincah mengopek kulit kerang.

Purata upah sehari RM14 sudah memadai bagi mereka sementara menunggu suami dan anak pulang dari laut, sekurang-kurangnya pendapatan itu membolehkan mereka gunakan untuk perbelanjaan harian anak ke sekolah.

Rashidah berkata, setiap kilogram isi kerang yang dikupas, mereka dibayar upah 70 sen dan setiap hari, mereka mampu mengupas kira-kira lapan kilogram isi kerang. Kerang rebus setengah masak itu biasanya dihantar oleh pembekal yang membelinya daripada nelayan berdekatan.

Info

Nelayan wanita Kuala Gula:

  • Pendapatan purata harian RM80 hingga RM100.
  • Jumlah bubu yang dimiliki: 120 hingga 200 setiap nelayan.
  • Kerja sampingan:

    1) Mencari upah menanam anak benih pokok bakau.

    2) Mengupas isi kerang

    3) Memancing ketika musim ‘air mati’.

  • Masa bekerja: 6 hingga 7 jam sehari.
  • Hak Cipta Terpelihara 2009 – Berita Harian Sdn. Bhd. Emel kami sebarang maklum balas.

    Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

    Top 200 Universities

    Posted on 26 May 2009. Filed under: Kareer, Kerja Kosong, Kerjaya, kursus |

    QS.com Asian University Rankings 2009

    Top 200 Universities

     

     

    2009 rank School Name Country

    Source: QS Quacquarelli Symonds (www.qs.com
    Copyright © 2004-2009 QS Quacquarelli Symonds Ltd.
    Click here for copyright and limitations on use.

    1 University of HONG KONG Hong Kong
    2 The CHINESE University of Hong Kong Hong Kong
    3 University of TOKYO Japan
    4 HONG KONG University of Science and Tech… Hong Kong
    5 KYOTO University Japan
    6 OSAKA University Japan
    7 KAIST – Korea Advanced Institute of Scie… Korea, South
    8 SEOUL National University Korea, South
    9 TOKYO Institute of Technology Japan
    10= National University of Singapore (NUS) Singapore
    10= PEKING University China
    12 NAGOYA University Japan
    13 TOHOKU University Japan
    14 Nanyang Technological University (NTU) Singapore
    15= KYUSHU University Japan
    15= TSINGHUA University China
    17 Pohang University of Science and Technol… Korea, South
    18 CITY University of Hong Kong Hong Kong
    19 University of TSUKUBA Japan
    20= HOKKAIDO University Japan
    20= KEIO University Japan
    22 National TAIWAN University Taiwan
    23 KOBE University Japan
    24 University of Science and Technology of … China
    25 YONSEI University Korea, South
    26 FUDAN University China
    27 NANJING University China
    28 HIROSHIMA University Japan
    29 SHANGHAI JIAO TONG University China
    30= Indian Institute of Technology Bombay (I… India
    30= MAHIDOL University Thailand
    32 ZHEJIANG University China
    33 KOREA University Korea, South
    34 Indian Institute of Technology Kanpur (I… India
    35 CHULALONGKORN University Thailand
    36 Indian Institute of Technology Delhi (II… India
    37 WASEDA University Japan
    38 The HONG KONG Polytechnic University Hong Kong
    39 Universiti Malaya (UM) Malaysia
    40 National TSING HUA University Taiwan
    41 CHIBA University Japan
    42 EWHA WOMANS University Korea, South
    43 National CHENG KUNG University Taiwan
    44 SUNGKYUNKWAN University Korea, South
    45 NAGASAKI University Japan
    46 HANYANG University Korea, South
    47 National YANG MING University Taiwan
    48 TOKYO Metropolitan University Japan
    49 Indian Institute of Technology Madras (I… India
    50 University of INDONESIA Indonesia
    51 Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Malaysia
    52 SHOWA University Japan
    53 KUMAMOTO University Japan
    54 YOKOHAMA NATIONAL University Japan
    55 YOKOHAMA CITY University Japan
    56 OKAYAMA University Japan
    57 KYUNG HEE University Korea, South
    58 PUSAN National University Korea, South
    59 GIFU University Japan
    60 University of DELHI India
    61 SOGANG University Korea, South
    62 KANAZAWA University Japan
    63= Indian Institute of Technology Roorkee (… India
    63= OSAKA CITY University Japan
    63= Universitas GADJAH MADA Indonesia
    63= University of the PHILIPPINES Philippines
    67 TOKYO University of Science (TUS) Japan
    68 GUNMA University Japan
    69 Universiti Sains Malaysia (USM) Malaysia
    70 TIANJIN University China
    71 National SUN YAT-SEN University Taiwan
    72 National TAIWAN University of Science an… Taiwan
    73 Hong Kong BAPTIST University Hong Kong
    74 National CHIAO TUNG University Taiwan
    75 XI’AN JIAOTONG University China
    76 DE LA SALLE University Philippines
    77 National CENTRAL University Taiwan
    78 NIIGATA University Japan
    79 OCHANOMIZU University Japan
    80 BANDUNG Institute of Technology (ITB) Indonesia
    81 CHIANG MAI University Thailand
    82= KYUNGPOOK National University Korea, South
    82= Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Malaysia
    84 Ateneo de MANILA University Philippines
    85 THAMMASAT University Thailand
    86 TOKAI University Japan
    87 MIE University Japan
    88 CHONNAM National University Korea, South
    89 KAGOSHIMA University Japan
    90 Universiti Putra Malaysia (UPM) Malaysia
    91 CHANG GUNG University Taiwan
    92 INHA University Korea, South
    93 TOKYO University of Agriculture and Tech… Japan
    94 TONGJI University China
    95 SOUTHEAST University China
    96 HITOTSUBASHI University Japan
    97 CHONBUK National University Korea, South
    98 AJOU University Korea, South
    99 CHUNGNAM National University Korea, South
    100 University of PUNE India
    Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

    Liked it here?
    Why not try sites on the blogroll...